Minggu, 26 Maret 2023

My Journey to Another Chapter Part 1

This story started with a morning chit chat with my HRD at TVRI Jakarta, "If you have the chance to continue study, then do it," she said.

"I will ma'am, Insya Allah I will look for a way to continue my degree."

Working in TVRI as a civil broadcaster had never been in my list of aspiration as a child. I was never in a family of civil worker, let alone circle of broadcasting world. But as my world revolved, here I am, 2 years working as a program director and daily broadcasting director and, gosh, how I am utterly passionate of it.

Here I met all different kinds of people who gave me valuable lessons, and as an eager learner, those lessons feed my anthuasiasme even more. While I got the opportunity to learn informally from everyone's experiences, and chances to get formal training from my institution, the urge to continue my degree majoring Television arises. 

Thus in early December 2022, after several small researches, I contacted ThinkOpenMind enquiring about applying to University of The Arts, London. I was excited because luckily, the terms and condition were as easy as a breeze for me somehow. Not because it was merely uncomplicated, but the requirements suited my condition. Maybe that's what they called destiny.

At first I thought, let's just apply, we'll think of other stuff later. I didn't expect much, I had nothing-to-lose mindset. I didn't even tell my parents about it. 

Day by day, while still doing my usual job at work, I prepared all of the requirements one at a time. ThinkOpenMind helped me by correcting my Personal Statement and script for Video Task. The Video Task was the hardest part at the beginning. I had to create a 3-minutes video explaining about what I see outside my windows.

I thought of the words for my video while I was sleeping, that's how I get to my most creative side. Silly, right? But I had been doing it since I was little. Then after ThinkOpenMind confirmed that the words were good enough, I took a video of myself with the help of my husband, who kept on telling me the video was already perfect, but I still wasn't confident about it. Then with the help of my best friend who I consider as my little brother at work, Hafiz, who edited my video for a finishing touch, the video was completed. And also with the support and prayers from Abi, Kiki, Alan, and Hasna who always reply to my silly messages when I get nerve breakdown, I finishes my submission to UAL at last. 

After the submission to UAL, I told myself to begin preparing for LPDP Scholarship application. This time, I needed to get IELTS score of minimum 6.5 (with each band minimum of 5.5). I also need to get the recommendation letter and permission letter from my superior at work. 

At first, I still wanted only few people to know that I am applying. But somehow the news got spreaded. It even evolved to a story that I got accepted, well, I prayed amin to that. Well, it's true, thankfully I got an offer from UAL which made me dumbfounded. I took my time to actually let that sink in. I got accepted! I still couldn't believe it somehow. 

Then by fate, I had to prepare LPDP while doing Documentary Film Training. How hard i cried, I had a lump in my heart. I can imagine how difficult it would be, dividing my attention between LPDP Administration submission and making a Documentary Film for this training. 

I met several people here, Bang Riadh and Bang Nail, who supported me since they found out I am applying for the scholarship. How could they not find out, I held my tears in class from the hardship I am facing? They accompanied me, giving me pointers on what to do when my head was clouded with tears and emotions. Then I had to write the essay which I had to revise several times, typing days and nights while accompanying Akbar who was editing the Documentary Film we were making.

Thanks to them I managed to finish everything on time, on the very last day of submission. Thanks to the people at my office who helped me with the recommendation letter from Director of General Affair, as well. Also, thanks to ThinkOpenMind who helped me follow up to UAL Admission team so I can obtain the LoA early so it can be in time for the submission of the scholarship.

And everything paid off when I open the LPDP portal at 23.59 on 14th March 2023, accompanied by you know who you are, thank you for being there until the last minute :). My submission got through. 

Next step will be the interview. Wish me luck. I need all the luck there is. 

Jumat, 09 Juli 2021

Pejuang Masa Depan - Seleksi CPNS

Halo temen-temen Pejuang CPNS 2021, perkenalkan saya Citra Sandy, CPNS Kemenkominfo Angkatan 2019 penempatan TVRI DKI Jakarta. Izinkan saya sharing sedikit tentang perjuangan dan cara belajar saya selama menjadi pejuang seleksi pada 2017-2019 (melewati 3 tahun anggaran dan mengikuti 4 gelombang seleksi).

Berikut hal-hal penting yang menurut saya patut kalian fokuskan selama mengikuti rangkaian seleksi :

1. Iqra

Wajib teliti membaca pengumuman dari instansi yang kalian minati, karena terms and condition tiap instansi akan berbeda satu dengan yang lain. Dulu ketika saya mempertimbangkan beberapa formasi, saya print pengumuman halaman ketentuan umum dan khusus dan saya pelajari PER KATA. Pada bagian tersebut terdapat syarat dan ketentuan yang jika kalian sepelekan atau salah baca, bisa berakibat fatal pada Seleksi Administrasi.

2. Gabung ke Grup Pejuang CPNS

Terutama jika kalian baru pertama kali mendaftar seleksi karena banyak pengalaman yang bisa kalian dengar dari sesama pejuang dan kalian akan terjaga semangatnya untuk belajar. (Bahkan ada sesama anggota grup yang bisa sampai berjodoh)

3. Pelajari UU ASN dan PP Manajemen ASN

Bukan berarti peraturan-peraturan tersebut akan keluar di tes (kecuali kalian mendaftar pada formasi jabatan yang mengurusi itu), tapi itu adalah ilmu mendasar saat kalian membaca pengumuman dan peraturan turunan yang ada.

4. Hubungi panitia jika memiliki special case

Dulu special case saya adalah tidak punya ijazah SD, sedangkan ijazah SD dibutuhkan saat pemberkasan final pengajuan NIP setelah lulus. Nah jika kalian punya pengalaman serupa, baru deh tanya panitia. Jangan bertanya pada panitia hal-hal yang sudah jelas ada di pengumuman, jangan mempersulit kerja panitia ya.

5. Pilih formasi dengan hati-hati

Pastikan syarat-syaratnya dapat kalian penuhi karena jika tidak ya tidak akan lulus seleksi administrasi. Jika kalian beruntung karena panitia silap, bisa jadi kalian digugurkan ketika verifikasi akhir pengajuan NIP oleh BKN. Jangan coba-coba. Selain itu yang terpenting, pilih formasi yang tupoksi, lokasi penempatan dan resiko pekerjaannya bisa kalian tolerir. Semua pekerjaan itu tidak ada yang tidak melelahkan, tapi kalian bisa memilih lelah yang menyenangkan. Terutama, cari tahu perkiraan pendapatan rutinnya, apalagi yang sudah berkeluarga, apakah akan mengganggu cashflow rumah tangga.

Selanjutnya, cara saya belajar.

Saya belajar 3 tahun terus menerus dari 2017 saat pertama kali mendaftar, dan tidak dadakan hanya karena ikut seleksi. Apalagi menunggu pengumuman administrasi lulus atau tidak. Saya pakai cara belajar seperti dulu ketika sekolah yaitu merangkum. Pertama saya buat daftar materi yang perlu saya pelajari, dan saya rangkum materi dari manapun sumber yang saya dapat mengenai hal tsb. Mulai dari buku pelajaran SD, SMP, SMA, google, youtube, modul-modul yang berseliweran di grup-grup pejuang, saya rangkum semua dalam 1 binder baik dengan cara doodling, buat tabel, buat timeline dan buat poin-poin.

Selain itu, ketika saya tidak bisa menulis, misal saat makan, saya tonton video-video dokumenter di yutub contohnya Melawan Lupa dari Metro TV. Dan karena saya seorang visual learner, saya juga mendatangi museum-museum untuk belajar langsung sejarah di sana. Saya juga menggunakan aplikasi yang mempermudah untuk menghafal UUD.

Salah satu manfaat bergabung di grup adalah saling lempar soal dan menjawab. Jadi tidak belajar sendiri. Ada interaksi dengan sesama pejuang yang membuat belajar jadi tidak membosankan.

Hal yang paling penting selanjutnya adalah perbanyak tryout. Tryout ini akan membantu kita mencari ritme yang pas saat mengerjakan tes nanti. Jadi saya dulu belajar manajemen waktu tes dari berkali-kali melakukan tryout, bagian mana yang harus dikerjakan duluan sehingga waktu yang dipakai bisa optimal. Dan cari Tryout yang susah soal-soalnya, atau yang biasa disebut soal HOTS (High Order of Thinking Skill). Mungkin pas awal-awal mengerjakan kalian akan dapat score yang hancur, tapi lama kelamaan kalian bisa mendapatkan score sesuai target karena terbiasa dengan soal HOTS, dan karena sudah terbiasa jadi bisa dengan mudah mengerjakan soal-soal saat hari H nanti. Dulu aku member di toskdcpns.com (karena paling murmer pada saat itu dan soal-soalnya HOTS dan update).

Selain tes SKD, ada tes SKB. Tes ini lebih ke kompetensi sesuai bidang jabatan yang kita lamar. Jadi ketika saya melamar JF Pranata Siaran Ahli Pertama, yang pertama saya pelajari adalah turunan dari UU ASN yang mengatur JF saya, PermenpanRB no 30 tahun 2017 tentang JF Pranata Siaran. Di dalamnya ada tugas pokok dan fungsi (tupoksi) JF dimana uraiannya saya bedah dan cari tahu dari literatur-literatur yang ada, kalau mau gratis bisa dibuka di aplikasi ePusnas. Saya juga mempelajari UU Penyiaran dan peraturan-peraturan lainnya tentang penyiaran.

Semua itu saya kerjakan di sela-sela waktu menjadi seorang istri dan ibu dari 2 anak, yang terpenting ridho dan dukungan dari suami juga anak-anak. Jadi buat ibu-ibu muda di luar sana yang sedang berjuang, semangat ya! Dan buat yang masih single, jangan mau kalah semangat dari emak-emak berbuntut.

Mungkin tidak bisa dipukul rata semua dapat melakukan hal yang sama tapi semoga sedikit cerita ini bermanfaat untuk para Pejuang Masa Depan. 

Feel free to contact me on this email: pejuangmasadepan2021@gmail.com

Good luck!

 

Minggu, 03 September 2017

What they taught me in life.

What They Taught Me

He taught me that childhood crush was a mere fantasy. 

He taught me that not every one you fell in love with, will fall back for you. 

He taught me that genuinety won't always reach. 

He taught me to be careful whom you show your care to, it's often misleading. 

He taught me that age is not an issue in love. 

He taught me that loving in silence is also love. 

He taught me that first-sight love do exist, but it takes two to tango. 

He taught me to be consistent in every aspect of your life. 

He taught me that friendship wins over love. 

He taught me what it was to be heart broken. 

He taught me that we can still be beautiful, even with broken wings. 

He taught me how to smile again and look forward to life. 

He taught me how to live without regret. 

He taught me that your heart is a spacious place for more than one. 

He taught me how to fight for what's important in my life. 

Each one of them, came to my life to teach me how to love. 

Rabu, 30 Maret 2016

Alhamdulillah, I said "Yes".

"Menikah itu butuh keberanian, bukan kesiapan. Kalau ditanya siap atau tidak siap, kita akan selalu punya alasan untuk tidak siap.” Sebuah kutipan yang aku dapatkan dari blog seorang penulis romantis Islami yang sama-sama mengagumi karya Paulo Coelho. Aku tak sengaja membacanya 20 hari sebelum hari ini, hari ulang tahun pernikahan kita.

2 tahun yang lalu, kita duduk di atas pelaminan, setelah memperjuangkan terwujudnya momen tersebut. Bukan hal yang mudah, namun tekad kita kuat dan Allah ada bersama kita. Sesudah kesulitan ada kemudahan, itu janjiNya.

3 tahun kita mengenal satu sama lain, sebelum akhirnya kita memutuskan untuk berhenti "pacaran" dan menikah. Banyak kerabat dan kenalan yang menyarankan untuk sudahi saja ikatan yang "tidak diridhai" itu. Kami pun seringkali mendiskusikan tentang anjuran orang-orang untuk menghilangkan status pacaran yang terlarang. Ya Allah, tanpa disuruh pun sebenarnya kami sangat ingin. Tapi kami harus memperjuangkan status "putus" tersebut.

Yang pertama harus kita lakukan adalah Basmallah dan luruskan niat. Kemudian mengumpulkan modal untuk biaya sebagai proposal ke orang tua. Saat orang lain mungkin sibuk menyiapkan proposal sidang skripsi, saat itu aku sibuk menyiapkan proposal skripsi dan proposal nikah. Sebagai seorang mahasiswi, dua proposal ini penting pada saat itu. Aku sudah tidak memikirkan lagi proposal romantis , proposal "Will you marry me?", karena tanpa kamu mengajukannya pun aku sudah meng-acc-nya. Kamu bukan orang yang romantis dengan kata-kata, malah kamu adalah type yang sering diam seribu bahasa, entah itu bahasa verbal maupun bahasa tubuh. Sehingga aku tidak pernah mengharapkan adanya acara bertekuk lutut sambil bilang "Will you marry me?".

Aku dididik untuk menjadi wanita yang mandiri, visioner dan realistis. Dari awal kuliah aku sudah bertanya ke kakak tingkat tentang perkuliahan dan tugas akhir, baik itu skripsi ataupun karya desain. Sehingga saat yang lain sedang sibuk memilih tujuan rekreasi, aku memilih tempat yang menunjang tugas akhir ku. Saat yang lain ke luar kota untuk berlibur, aku survey lapangan untuk kebutuhan proposal. Pada akhirnya proposalku tersusun, bahkan sebelum waktunya diajarkan untuk menyusun proposal.

Saat semua proposal sudah di acc, baik proposal TA dan proposal menikah, dimulailah perjuangan selanjutnya. Perjuangan untuk mendapatkan ijazah dan ijabsah! Jadwal di susun, mulai dari jadwal mengerjakan materi-materi tugas akhir, jadwal bertemu dosen pembimbing, jadwal transportasi untuk ke Bekasi dan ke Cilegon, jadwal survey vendor dan jadwal jadwal yang bisa terjadwal.

Ada yang bilang, sehabis lamaran adaaaaaaaaaaa saja godaan dan cobaan. Tiap orang berbeda jatahnya, tapi jatah kami adalah datangnya cerita lama dan bencana alam. Aku pikir, datangnya cerita lama karena Allah memerintahkan aku untuk menyelesaikan cerita itu. Cerita yang menggantung 6 tahun lamanya tanpa ada clearance. Jadi cobaan tersebut ada agar aku menutup buku cerita lama agar ke depannya tidak ada lagi lembaran yang terbuka di buku tersebut yang menghilangkan fokusku dari buku baru.

Cobaan lainnya berupa bencana alam terjadi 2 kali. Yang pertama adalah banjir yang melanda jabodetabek persis saat harus mengurus surat-surat izin menikah dari pihak laki-laki. Sehingga calon mama mertua harus berakit-rakit naik perahu karet mengarungi banjir agar dapat mengurus semua surat. Bencana alam yang kedua terjadi saat jadwal untuk survey sudah tersusun, yaitu Gunung Kelud meletus, mengakibatkan penerbangan tidak jadi dan tiket pesawat yang sudah kami pesan direfund dan harus mengatur ulang semua perjanjian dan jadwal-jadwal yang ada. Memang benar, manusia berencana tapi Allah yang menentukan.

Menikah adalah memulai sesuatu yang baru. Sebuah level baru dalam kehidupan. Sehingga kita harus lulus dulu dari level sebelumnya dengan baik untuk persiapan menghadapi level selanjutnya. Cobaan yang ada harus dihadapi, karena ujian yang tidak dihadapi suatu saat akan diuji lagi dengan ujian yang sama.

2 tahun pernikahan yang penuh dengan kerikil-kerikil tajam dapat dilalui dengan mudah jika dilakukan bersama. Jangan fokus pada sakitnya menginjak kerikil sehingga lupa bahwa pemandangan sepanjang perjalanan itu indah. Itu yang aku pelajari selama 2 tahun berstatus istri seorang Hanggara Surya Dewangga. Alhamdulillah, I said "yes".

Selasa, 07 April 2015

Melampaui Rasa Takut

Perasaan takut adalah salah satu perasaan yang manusiawi karena mau hanya sebesar partikel debu, rasa takut pasti ada dalam pikiran dan hati manusia. Bagi seorang Muslim sebesar-besarnya rasa takut adalah kepada Sang Pencipta. Bagi seorang calon ibu, seperti saya 3 bulan lebih yang lalu, rasa takut itu ada berbagai macam, berbagai rasa, berbagai warna. Saat perut membuncit to the max, saat sudah menjelang HPL (yang dalam kasus ini artinya Hari Perkiraan Lahir bukan High Pressure Laminate), saat tanda pertama akan melahirkan tampak ketika mengecek ke toilet tepat setelah adzan Dzuhur berkumandang.

Sudah pasti rasa takut juga dirasakan oleh calon ayah dari janin yang akan segera terlahir tersebut. Sampai-sampai ketika mendaftarkan istrinya ke rumah sakit bersalin, ia menulis 1990 tahun, 11 bulan, 20 hari untuk kolom umur. Istrinya hanya bisa tertawa sembari menahan mules yang kian sering melihat kelakuan sang suami.

Dengan terus berdoa, berdzikir, melantunkan Asmaul Husna, sambil mengatur nafas yang telah diajarkan saat senam hamil rutin, aku berusaha untuk menghalau rasa takut. I thought, this was it. Here comes the time where I might be reborn again as a mother or reborn as almarhumah. :')

Rasa takut bisa dikalahkan. Rasa yang dapat menaklukan rasa takut tersebut adalah rasa keinginan yang lebih kuat dan lebih besar dari rasa takut yang ada. Jadi cara manajemen emosinya adalah, kalau rasa takut kita sebesar bola golf, rasa ingin kita harus sebesar bola bowling yang lebih besar dan lebih keras. Saat takut mengalami sakitnya melahirkan, bayangkan rasa ingin melihat si buah hati yang lucu sambil menerka-nerka nanti akan mirip siapa.

Ada cara untuk menghilangkan rasa takut pada saat melahirkan, yaitu dengan latihan hypno-birthing. Sebenarnya kita bisa berlatih sendiri, hypno-birthing alami ada dalam pikiran kita. Jika kita berpikir melahirkan itu sakit, kita menghipnotis diri kita sendiri bahwa melahirkan itu memang sakit. Namun jika kita senantiasa berpikiran positif, "proses kelahiranku akan cepat dan tak sakit" "melahirkan sakit hanyalah mitos" "Insya Allah seiring dengan lahirnya bayi, luruh pula dosa-dosa kita di kehidupan sebelumnya" dan pikiran positif lainnya, Insya Allah, proses melahirkan hanya seperti mengejan untuk buang air besar yang agak besar.. hehe :D

30 Desember 2014 kemarin, aku mengalami bukaan 1-8 selama kurang lebih 8 jam, dan 2 bukaan selanjutnya hanya kurang dari 1,5 jam, dan hampir setengah jam menahan janin agar tidak keluar karena dokter belum datang >,< dan hanya 10 menit mengejan dengan 3 kali tarik nafas dan ejan sampai akhirnya Drisana lahir ke dunia. 8 jam bukaan pertama rasanya seperti sedang akan datang bulan, perut rasanya nyut nyut beraturan dan pada saat itu alhamdulillah rasanya tidak sesakit nyut-nyutan saat akan datang bulan yang biasanya bikin aku guling-guling di kasur. 1,5 jam 2 bukaan terakhir berjalan begitu cepat tanpa terasa entah kenapa, yang dirasakan ya mules seperti ingin buang air besar. Yang paling menyakitkan adalah, saat menanti dokter datang, aku disuruh tidur miring ke kiri. Ternyata itu adalah cara mengampit janin agar tidak keluar sebelum dokter tiba. Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaa, sumpah itu sakit banget. Ternyata aku sudah bukaan 10 pada saat itu, suster kenapa gak bilang? Sakitnya tuh di sini sus!!! (Suster atau bidan ya?? haha tidak begitu memperhatikan :P)

Dokter cantik datang, sambil tersenyum dan berkata "wahhh, kepalanya udah keliatan, rambutnya lebat". Kan jadi pengen lihattt!!! *gagal fokus*. Anyways, setelah itu dokter memberi aba-aba untuk menarik nafas saat terjadi kontraksi dari si janin. Aku bingung yang mana kontraksi janin yang mana yang bukan, jadi aku bilang oke dan kemudian menarik nafas dan eeeeuuuuuuuuuuu.. Eh, gak eeeeuuuu ding.. cara mengejan yang baik itu kata instruktur senam adalah tidak mengeluarkan suara sama sekali, baik di mulut, ditenggorokan, diperut.. Tarik nafas dan tekan otot perut bagian bawah aja sekuatnya sampai nafas hampir habis. Saat nafas habis, nafas huh hah huh hah dlu beberapa saat, trus tarik nafas lagi dan ejankan lagi. Begitu terus sampai bayi keluar. Dan ingat, dilarang menutup mata, meskipun dengan menutup mata kita bisa membayangkan hal-hal positif untuk proses hypno-birthing. hehe. Tapi jangan tutup mata titik! Cobalah berhypno-birthing sambil melihat ke arah dengkul kita, haha. I did :p

Dan yang watadosnya (masih ya zaman pake istilah ini?), aku kemarin memikirkan hal-hal konyol seperti momen-momen Taiga (kucing peliharaan) melahirkan. Dia mudah sekali melahirkan, bisa 5-8 anak, yaiyalah namanya juga kucing. Anyways, aku membayangkan Taiga melahirkan dengan amat mudah, sehingga aku menanam dalam pikiranku sendiri, bayi ini juga akan keluar dengan mudah semudah Taiga mengeluarkan anak kucingnya. Dan pluk! Drisana keluar. hehehehehe


Alhamdulillah, dia telah lahir dan saat melihat mukanya aku dan suami kompak berpikir "mirip Emerl!" (Adikku yang paling bungsu). Mukanya lucu, saking lucunya minta ditabok. #plak
Becanda, becanda... ampun Ya Allah.. Terimakasih Ya Allah... Akan kami jaga amanah dariMu sebaik mungkin.

Intinya, rasa takut itu bisa dikalahkan dengan rasa ingin yang lebih besar dan lebih kuat. Saat aku menulis ini, aku baru saja merampungkan aplikasi beasiswa yang ya takuuuuttt siiihhh.. tp pengeeeennn... hehehe
Pengen banget ya Allah... Apapun yang terbaik untuk hamba dan keluarga hamba. :)

Kamis, 09 Oktober 2014

Out of Goodbyes

"Tell me action speaks louder but there's something about her words that hurts."

Your expression changed immediately when I told you about me being engaged. You tried to distinguish it with a shrug in a split second, but I managed to capture it in my memory. It kept playing back after you walked me to my room and waved goodbye.

The past two days together with you, in a place I've never been before, literally and unilaterally. The air smelt of dog odor every morning which I later found out was pollution emit from fertilizer not far from where the 3-star hotel we stayed at for the next couple of days.

The first two days had made me feel, we were warped back to the past 6 years, the moment we first set eyes on each other. The moment you kept stealing glance in curiosity. The moment where I realize, I was worthy enough to be interested in despite my broken heart from my high school lover at that time. The first two days made me almost forget that 6 years had passed.

You didn't change. Your stare was still the same, eyes filled with light and curiosity. Eyes of an eagle. Your smile was still the same, that smile I thought I would have every morning of my life. Your hands were still the same, the hand that held my hand as if saying you are protecting me despite you being younger than me. How much I wanted to hug you when I first saw you after not seeing you in such a long time. I realized I missed you.

It wasn't that the last 6 years we hadn't seen each other at all, we met once in a while but not like this, not in the same exact atmosphere like the one we first met. Maybe that's what made it different. But in reality everything had changed. This was not 6 years ago. This was the present. The condition was not the same. I was just engaged precisely the day before I met you.

All these years we kept in touch, said our hi and goodbye, but I knew this time is the last. This was the last of our goodbyes. Your expression said it all. I couldn't help myself wanting to be close to you in our last moment. Your action told me that you too.

I wished I could reset my life to the check point 6 years ago, and redo everything so I wouldn't have to be in this position. But life is not a video game, I made my choices in life just as you did with yours. And we have to accept to let go of each other when the plane took of later that week.

Senin, 07 Juli 2014

Deepest Regret

Moving on means having to go with the flow of your life, strive to go forward. But sometimes it is inevitable to subconciously look back, isn't it? My life had been moving so tense and quick for these couple of years that when I suddenly had slowed down one notch, the past hit me.

At first it was destiny which brought me to it. I had been avoiding my past for so long that fate decided to take part in my life. I had ran so far, in the end I still have to face what I had buried for so long.

I considered the moment was perfect to come clean, to forgive him, to forgive her and to forget the pain. 5 days was enough time to bring me back to the past as if the past 6 years had never really happen. But with the presence of my mind I kept reminding myself, 6 years had changed our lives and I should try my hardest not to get in too deep into those feelings.

I made sure I did not waste such a little time I had to transfer all my thoughts and feelings. It was hard, really hard not to topple down. Seeing him all grown up but still looked the same, with those same eyes and same smiles did not make it any easier.

I told him I was really hurt by the decision we've made, although it was a relieve that we stayed friends afterwards. I sincerely treasure him, I'd rather be friends with him than not have him at all in my life. I was honestly hurt by his mom's indirect attitude towards me in the past. And plus, to find out that his mom changed her mind after all this time, it didn't lessen the void in my heart, instead it got stabbed even deeper.

Yeah, i guess that last blow was what made this pain turn into regret. Regret of moving on instead of waiting for that moment to come. Now I started to think, was moving on a good choice to take? I was scared of being alone, I was lost. If I did not stand up and run forward, I don't think I could've handle the loneliness. If I did not run, I couldn't have been able to stand up high. When I ran, he ran in the opposite direction. What else was I supposed to do? Why didn't he tell me not to go? Why didn't he tell me to wait?

But those eyes, the same stare I've been avoiding, that I've been shaking off off my mind. Was I seeing the same regret? Or was it just the reflection of what I was feeling? Were those eyes like mirror that reflected what's in front of it instead of being a window to see through inside?

Now everything seemed too late, I've opened a door to a new life but I am still afraid to close the door behind me. I feel so soaked in sin. Even though he told me to go, to move on forward with the life I have chosen.But still, I can't completely let go of the regret I've been dragging since that last time we met. Maybe it's been stabbed too deep that I can't take it off and leave it behind.